Seorang Pemuda Tampan

September 9th, 2009 by evelyn-ridha

Sumber: http://sempurnaselalu.blogspot.com/2009/07/seorang-pemuda-tampan.html

Seorang pemuda tampan dan cerdas sebentar lagi akan diwisuda, segera dia akan menjadi sarjana, akhir dari jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan. Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford. Setiap waktu dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu. Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya, bahkan semua mimpinya itu sudah dia ceritakan keteman-temannya.

Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,.. . namun bukan sebuah kunci ! Dengan hati yang gundah si anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Kitab Suci yang bersampulkan kulit asli, dikulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas. Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, “Yaahh…!!! Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan Alkitab ini untukku?” Lalu dia membanting Kitab Suci itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses, dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas. Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri.. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu.

Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.

Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya.

Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelak terhadap ayahnya.

Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Kitab Suci itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu. Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Kitab Suci itu, dan mulai membuka halamannya. Di halaman pertama Kitab Suci itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, “TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; IA merendahkan, dan meninggikan juga” (1 Sam 2:7) disertai dengan nasehat “Manusia yang paling bermanfaat adalah yang kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik bagi orang lain” (2 Tim 3:17).
Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Kitab Suci itu. Dia memungutnya, …. sebuah kunci mobil ! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu. Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam. bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga. Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati…… ….

SEBERAPA MAHAL DAN BERHARGANYA KITA PERNAH KEHILANGAN SEBUAH BARANG, NAMUN TAK SEMENYESAL JIKA KITA KEHILANGAN ORANG-ORANG YANG KITA CINTAI

Iklan Kecap Sedap

May 13th, 2009 by evelyn-ridha

Udah nonton iklan “KECAP SEDAAP”? Konsep ceritanya ada anak kecil yang sedang bersiap-siap untuk makan dengan kecap kesukaannya, kecap Sedaap. Ia menuangkan kecap ke semua makanannya, ke nasi, ke kerupuk, semua sampai hampir berwarna hitam. Setelah itu ia makan dengan lahapnya sampai makanan di piringnya ludes bahkan sampai menjilat piringnya. Ceritanya sih karena kecap Sedaap. Ketika ia nambah nasi dan ingin menuangkan kecap ke piringnya, kecapnya habis. Dan anak yang lucu itu langsung histeris berteriak “AAAAAAAAAAAAAAAA!!”. Kemudian muncullah sang ibu yang membawa kecap yang diminta si anak. Hm… Kalau tidak salah si anak hanya berteriak kan? Tapi kenapa si ibu tau yah si anak meminta kecap? Apa ada bagian yang terpotong di iklan itu? Atau si ibu memang bisa membaca pikiran anaknya? Wah, hemdun (Hebat, red) benar si ibu yah…Hohoho…

Apa yang membuatku tiba-tiba membahas iklan ini? Bukan, bukan, aku bukan staff marketing atau Humas dari kecap tersebut sehingga aku ingin mempromosikannya lebih lagi. Bukan. Aku hanya seorang yang senang menonton dan suka berpikir dengan otakku yang tak seberapa ini. Hahahha…Ya ya, balik ke pertanyaan tadi. Apa yang membuatku tiba-tiba membahas iklan ini? Begini, aku cukup heran dengan iklan ini. Mengapa? Iklannya bagus bukan? Seorang anak saja sangat menyukai kecap tersebut sampai dia nambah makan, berarti kecap tersebut mampu menambah nafsu makan anak. Tidak perlu membeli susu penambah nafsu makan lagi. Cukup membeli kecap tersebut dengan harga yang lebih murah. Iya kan?

Bagian yang menjadi keherananku adalah ketika akhirnya kecap tersebut habis dan si anak langsung histeris berteriak “AAAAAAAAAAAAAAA!!!” dan si ibu langsung mendatanginya sambil membawa kecap yang dia inginkan. Apakah hal tersebut adalah hal yang telah lumrah saat ini? Ketika anak meminta sesuatu dari seseorang terutama ibunya dengan cara berteriak? Bukankah hal tersebut membuat anak belajar, bahwa ketika saya membutuhkan sesuatu, berteriak saja maka saya akan mendapatkannya. Tidak heran, jika kebiasaan tersebut diteruskan, anak akan berusaha mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak lajim, seperti brteriak, menangis, merusak barang, atau tindakan agresi lain. Hal ini sekaligus membuat anak tidak belajar, bagaimana seharusnya saya mendapatkan sesuatu dengan cara yang lebih tepat? Misalnya memanggil ibunya dengan sopan dan meminta dengan sopan pula. Atau dengan berusaha mengambil/mencari sendiri kecap tersebut. Jika memang dia tidak bisa, barulah meminta bantuan orang lain. Jika seperti ini, anak juga dapat belajar mandiri. Hal lain yang tidak dipelajari oleh anak adalah kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Bisakah anak belajar berkomunikasi jika ia hanya berteriak langsung mendapatkan apa yang ia inginkan? Yah, bisa saja. Tapi komunikasinya hanya sekitar “AAAAAAAAAAAA” saja. Apakah tidak sebaiknya jika si anak pergi mendapatkan ibu kemudian berkata:”Mama, kecapnya habis padahal nasi saya belum habis” atau yang paling sederhana “Mama, kecapnya habis.” Atau lagi “Mama, aku mau kecap lagi”

Jika boleh saya mengubah konsep bagian terakhir cerita iklan tersebut, saya ingin mengubahnya begini:

“Seorang anak sedang makan dengan lahapnya dengan kecap Sedaap. Namun ketika ia nambah nasi, kecapnya habis. Kemudian ia berlari ke tempat penyimpanan kecap dibawah wastafel cuci piring (or somewhere else) yang terjangkau olehnya. Ketika ia telah menemukannya, ia tersenyum dengan puasnya dan kembali ke tempat duduknya, melanjutkan makan.”

Ada yang berpendapat lain? Let’s share……

Syarat Menjadi Penyanyi

May 11th, 2009 by evelyn-ridha

Syarat untuk menjadi penyanyi wanita di layar kaca:

  • ·Materi berlimpah sebagai modal awal untuk rekaman
  • ·Suara pas-pasan
  • ·Wajah sedikit di atas pas-pasan, sedikit manja dan agak centil
  • ·Body aduhai (karena akan sedikit dipertontonkan)

Jika Anda merasa memenuhi kualifikasi di atas, segera daftarkan diri Anda ke pencari bakat setempat. Dan kemungkinan besar dapat mengikuti jejaknya Syahrini, Aura Kasih, Titi Kamal, Acha Septriansyah, Catherine Wilson, Ussy Sulistyawati, dsj (dan sejenis).

Syarat untuk menjadi penyanyi pria di layar kaca:

  • ·Wajah sedikit melankolis dan sok imut
  • ·Penampilan kasual atau bergaya ke-korea2-an
  • ·Badan tinggi semampai
  • ·Suara sedikit di atas pas-pasan

Jika Anda merasa memenuhi kualifikasi di atas, segera daftarkan diri Anda ke pencari bakat setempat. Dan kemungkinan besar dapat mengikuti jejaknya Afgan, Vidi Alviano, dsj (dan sejenisnya)

Mungkin ada syarat yang terlewatkan olehku?

Latah jo

April 22nd, 2009 by evelyn-ridha

Semua orang berlomba-lomba mendeklarasikan di FS nya bahwa mereke masing-masing akan meninggalkan FS dan akan hengkang ke FB.

“Eh, alamat FB lu apa?”
“FB? Apaan tuh?”

“Ya elaaaa…ga gaul amat sih lo? Hahahaha…darimana aja je?”

“Heh?”

“Facebook facebook…”

“Oh, yang kaya friendster itu yah? Gw ga punya”

“Huakakaka, hare gene ga punya Facebook? Cape deyh, ga gaul banget seh lo?”

Ga punya FB=tidak gaul berarti Punya FB=Gaul

Ah, menurutku bukan begitu. Begini nih

Ga punya FB=teguh hati

punya FB=latah

:p

berarti saya juga latah karena saya punya FB

Cerita Dosenku (1)

April 21st, 2009 by evelyn-ridha

Dosenku, wanita yang telah berumur setengah baya namun gaul itu, pernah bercerita begini:

“Saya punya teman. Ia sangat menyayangi dan mengagumi suaminya karena ia menganggap bahwa suaminya adalah suami yang sangat dapat diandalkan, bertanggung jawab, sayang keluarga, humoris, dan pekerja keras. Namun entah kenapa, tiba-tiba teman saya mengalami kebutaan. Telah berbagai macam dokter spesialis mata didatangi olehnya dan suami untuk berobat, namun selama 2 bulan penyakitnya tidak mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik. Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit, sampai-sampai 2 rumah mewah dan tanah yang lumayan luas telah dijual untuk membiayai perobatannya. Akhirnya diputuskan untuk berobat ke seorang dokter spesialis mata di USA. Hasil yang diperoleh adalah bahwa teman saya tidak mengalami gangguan apapun di syaraf-syaraf mata. Sang dokter bingung, tidak ada gangguan tapi kok bisa buta? Akhirnya dokter tersebut merujuknya ke seorang psikolog, karena tidak jarang sakit fisik disebabkan oleh sakit psikis. Dengan keinginan yang besar untuk sembuh, teman saya dan suami akhirnya mendatangi psikolog tersebut dengan harapan dapat sembuh. Singkat cerita, selama proses konseling akhirnya terungkaplah bahwa teman saya menyimpan sesuatu yang tidak pernah ia bicarakan pada siapapun. Ia hanya menyimpannya dalam hati. Apa itu? Ternyata ketika sedang berbelanja di Cibaduyut, dari kejauhan teman saya melihat suaminya berjalan berdua dengan seorang gadis yang masih muda belia dan cantik. Dia sangat shock dan terpukul dengan kejadian itu. Suami yang begitu ia cintai dan bangga-banggakan tega perbuat seperti itu. Ia pulang ke rumah dan kemudian menangis sendiri di kamar. Ketika sang suami pulang ke rumah, teman saya sangat menekan kesedihannya dan berlaku seperti biasa; menyuguhkan kopi dan melayani suami seperti biasa. Perasaan teman saya semakin terpuruk saat suami pun berlaku seperti biasa dan tidak menunjukkan suatu penyesalan atau perasaan bersalah. Demikian berlanjut di hari-hari selanjutnya. Apa yang akhirnya ia lakukan untuk menekan perasaanya itu? Yah, dia memutuskan untuk berusaha melupakannya, namun yang terjadi adalah setiap kali ia melihat suaminya ia teringat lagi dengan kejadian yang mengguncang jiwanya tersebut. Akhirnya jalan yang ia tempuh ketika ia berhadapan dengan suaminya adalah mengatakan kepada dirinya sendiri:”Saya tidak melihatnya, saya tidak melihatnya, saya tidak melihatnya….” Benar, akhirnya dia benar-benar tidak bisa melihat apapun sampai saat dia konseling.”

Trus, apa yang terjadi, Bu?

“Sang suami yang mendengar hal tersebut sangat kaget dan shock juga sambil berkata:”Mama, jadi hanya ini yang membuat mama jadi buta?? Kenapa mama tidak membicarakannya dengan papa?? Semua harta kita hampir habis karena kebutaan mama dan penyebabnya hanya ini??” “Iya, Pa” “Mama, seandainya mama langsung bicara dan menanyakannya kepada papa, ga akan sampai seperti ini. Perempuan yang bersama ku itu adalah keponakan dari Kalimantan, Sunde, yang kebetulan sedang berlibur di Bandung. Kenapa mama sampai tidak bisa mengenalinya? Dia hanya sebentar di Bandung namun mamanya menitip oleh-oleh khas Bandung, sepatu. Jadi dia meminta papa untuk menemaninya ke Cibaduyut. Kemudian kembali lagi ke stasiun kereta.” “Kenapa papa tidak pernah cerita?” “Papa lupa dan mama juga tidak pernah menanyakannya. Bagi papa itu juga bukan sesuatu yang harus papa ingat-ingat terus kan? Mama juga tahu kalau papa sibuk dan terkadang hal-hal yang kecil suka lupa. Kalau mama tidak percaya, silahkan mama telpon Lita, adik papa yang di Kalimantan” Teman saya menangisi kebodohannya dan kemudian memeluk suaminya. Dan luar biasa, matanya bisa melihat lagi.”

Cerita ini kisah nyata. Dialami sendiri oleh teman dosen saya itu. Ah, seandainya saya yang menjadi psikolog yang didatangi oleh teman dosen saya, apakah saya mampu membuka tabir diri si pasien saya? Johari Window. Saya tidak mengetahui, orang lain pun tidak. Teman dosen saya dan orang-orang di sekitarnya tidak mengetahui apa yang sebenarnya yang menjadi penyebab kebutaannya. Ia mengambil pilihan yang tepat dengan mendatangi psikolog tersebut. Yah, demikian juga saya, ketika jendela itu tidak saya ketahui dan orang lain pun tidak mengetahuinya, maka saya butuh seorang ahli/terapis/psikolog/konselor/psikiater untuk membantu saya untuk mengetahuinya jika saya ingin mengetahuinya.

Eh, ternyata komunikasi itu sangat tidak diragukan lagi yah khasiatnya. Terkadang hanya butuh 5 menit untuk membicarakan sesuatu dengan orang lain, tapi jika kita tidak melakukannya mungkin butuh waktu seumur hidup untuk menyesalinya, menunggu waktu untuk mengatakannya lagi, atau mungkin tidak akan pernah lagi karena sudah terlambat.

Konseling (1)

April 15th, 2009 by evelyn-ridha

Aku masih ingat, kira2 Sabtu, 15 April 2006 seorang bapak dengan anaknya datang keruangan ku. Mau konsultasi mengenai anak yang besertanya. Si bapak berusia kurang lebih setengah abad, rambut putih, kacamata, wajah charming, penampilan sederhana tapi kelihatan orang berada. Si anak dengan gaya yang agak slenge’an, gemuk besar, ikal. Dan selama konsultasi, si anak memasang tampang tak berdosa, tanpa penyesalan, tapi berbicara dengan pongahnya. “Saya mau minta saran mengenai anak saya.” Katanya. Maka berlanjutlah konsultasi itu. Permasalahannya: si anak termasuk mahasiswa semester IV yang terancam DO karena nilai dan absent yang sudah melebihi 20%. *Konsultasi* Selama konsultasi fakta yang diperoleh adalah si bapak ingin diberikan kesempatan buat anaknya mengikuti kuliah di Universitas ini. Sedangkan si anak sudah pasrah dan memilih untuk di DO saja. Sebenarnya siapa yang mau kuliah? Anak atau bapak? Sampai pada kesimpulan akhir, si anak akan terus mengikuti perkuliahan selama semester IV ini. Kemudian akan dilihat hasil akhirnya, apakah dia masih layak atau tidak untuk mendapatkan kesempatan kuliah di sini.

Selama konsultasi, rasanya emosiku mulai berubah. Aku memperhatikan setiap pembicaran. Sekali-kali kucuri pandang ke arah mereka. Ke arah bapak, ke arah anak. Dan tau apa yang ada dalam pikiranku? “kok bisa sih ada orang kayak anak ini? Orang2 tuh banyak yang ga bisa kuliah bahkan di PT yang murah sekalipun karena ga punya duit. Dia malah seenaknya aja mau DO. Ga kuliah, alasannya cuman karena males, susah bangun pagi. Ditanya mau kemana kalo di DO, jawabannya cuman ‘mungkin kerja’. Ga mikir apa sekarang orang lulus PT aja susah dapet kerja, konon yang cuman lulusan SMA. Mentang2 bonyoknya berada, sesuka hatinya? Ga mikir kalo bonyoknya ngarepin dia banget biar lulus PT (karena bonyoknya hanya lulusan SMP)? Ga mikir klo bonyoknya ga selamanya ada bersama dia? Bla…bla…bla…” Banyak sekali tanda tanya di kepalaku yang kecil ini.

“Menurut Ibu, kenapa saya gagal mendidik anak saya ya? Dua orang anak saya seperti ini.” Katanya. Memilukan. Aku hampir terbawa emosi. Rasanya tidak tahan melihat orng tua terlebih-lebih seorang bapak yang menangis karena kelakuan anaknya.

“Mungkin ini karena dari kecil tidak menekankan pentingnya pendidikan pada anak-anak, Pak. Ketika kecil anak2 bersekolah, orang tua tidak menekankan pentingnya berprestasi. Yang penting anak sekolah, yang penting anak lulus, yang penting dapat ijasah. Sehingga setiap nilai yang diperoleh anak bukan menjadi fokus orang tua. Nilai kamu jelek? Ga papa, yang penting kamu sekolah. Sehingga ketika besar, anak2 akan terbawa. Pendidikan setidaknya dirasakan, tidak dinikmati.”

“Apakah saya perlu pindah usaha ke Jakarta supaya saya bisa mengontrol anak saya, Bu?” katanya lagi. Ternyata si bapak tinggal di luar pulau Jawa.

“Saya rasa tidak perlu, Pak. Sebenarnya bukan itu yang menjadi persoalannya. Banyak juga orang tua yang tinggal satu rumah dengan anaknya tapi anaknya seperti anak Bapak. Ada juga orang tua yang pisah rumah dengan anaknya, anaknya bisa maju. Yang penting adalah kedewasaan berpikir si anak. Mungkin secara kecerdasan dia termasuk anak yang cerdas. Tetapi secara mental, dia terlambat. Dia belum dewasa untuk menghadapi hidup. Dia kurang memiliki daya juang untuk bertahan”

Apa yang kuperoleh dari ini semua?

1.Aku bersyukur memiliki orang tua sederhana dengan pemikiran yang luar biasa.

2.Uang dapat membeli pendidikan tapi tidak daya juang dan kemauan untuk maju

3.Mengenal berbagai macam karakter manusia sangat menyenangkan dan membuatku mampu berkaca dari pengalaman mereka tanpa aku sendiri yang mengalaminya.

Indonesiaku

February 22nd, 2009 by evelyn-ridha

Kemana saja Indonesia selama ini? Kok baru tau kalau banyak terjadi kekerasan di kalangan para pelindung negara yang berseragam itu? Dah lama banget kale, basi. Apa selama ini sangat pintar instansi terkait menyembunyikannya sehingga tidak ketahuan atau dulu bangsa ini pura-pura tutup mata? Dulu saja waktu aku SMA hal-hal seperti itu sudah sangat sering kudengar bahkan beberapa temanku mengalaminya. Upz… Dan sekarang pun masih ada tuh, teman-temanku yang dari sekolah kedinasan yang mengalaminya, tapi beruntungnya mereka menyimpannya rapat-rapat, yah seperti jadi rahasia umum dalam instansi terkaitlah. Perut bonyok, biru lebam, ulu hati yang sering ditonjok, dada yang sudah tidak mulus lagi, ‘tendangan cendrawasih’, dll kata mereka udah jadi makanan sehari-hari. Nah, yang aku salut itu senior2nya pinter yah cara lokasi penghajaran. Di tempat yang tertutup, di wajah dan tangan mah enga. Hehehe…

Beberapa hari ini aku dengar dan lihat tentang kekerasan yang dilakukan anggota polisi di Sulawesi itu. 5 orang senior menghajar 1 junior dengan alasan salam perpisahan karena junior akan dipindahtugaskan ke tempat lain. He?! Dulu waktu mau resign dari tempat kerjaku, yang ada juga farewell party, di Café Strawberry. Kita menghabiskan waktu dengan kegembiraan sekaligus kesedihan karena tidak akan bekerja di ruangan dan perusahaan yang sama lagi. Tidak ada acara kekerasan atau penghinaan waktu itu. Apa bedanya mantan tempatku bekerja dengan lingkungan kerja kedinasan itu yah? Bukankah seharusnya kalau dipindahtugaskan kita mengadakan pesta atau mungkin hanya sekedar acara perpisahan yang tidak mengikutsertakan si kekerasan? Hm…

Oh iya, satu hal yang aku tak habis pikir. Setelah oknum2 terlibat di investigasi mereka mengatakan alasan mereka melakukannya:”TERINSPIRASI DENGAN TINDAK KEKERASAN DI IPDN” Ha?! Loh kok mengkambinghitamkan instansi lain? IPDN udah hitam, jangan dihitam-hitamkan lagi. Ga baik itu. Kasihan mereka, yang tidak berusaha untuk memulihkan nama baiknya. Sikap ini sangat tidak terpuji dan tidak bertanggung jawab. Kalau sudah berbuat salah, mbok ya bertanggung jawab sendiri atuh, jangan membawa nama2 orang lain atau instansi lain sebagai wujud pembelaan diri. Kalau pun memang anda terinspirasi dengan instansi lain, toh yang melakukan kesalahan itu kan Anda sendiri. Sebenarnya ketika Anda melihat atau mengetahui kekerasan yang terjadi di IPDN, Anda dapat memilih untuk meniru atau tidak meniru hal itu. Proses pengambilan keputusan terjadi di dalam diri Anda. Ketika suatu informasi dari luar masuk ke dalam diri Anda, diolah dengan segala yang ada dalam diri Anda (kepribadian, nilai2, kecerdasan, dll), maka Anda memilih. Pilihan di tangan Anda. Tidak ada yang memaksa Anda untuk memilih untuk meniru hal itu kecuali diri Anda sendiri. So, Anda yang melakukan Anda yang bertanggung jawab.

Lagian kok aku beda yah lihatnya? Aku sering lihat di tipi – karena tiap hari tayangan itu masih tetap aja ditayangkan di tipi2, ga ada berita lain apah? Lebai deh – bagaimana cara mereka ketika mereka berusaha ‘menghabisi’ juniornya. Kayanya mereka sudah fasih sekali yah? Atau pandanganku terlalu berlebihan? Ketika mereka menampar berkali-kali sepertinya mereka sudah cakap melakukannya. Gerakan tangannya itu loh, cepat sekali. Plak plak plak. Mantap dah pokoknya. Menampar kemudian tiba2 meninju tepat sekali di bagian perut korban. Cakap sekali gerakannya. Kecakapan diperoleh melalui latihan atau kebiasaan melakukannya, iya kan? Hm, apa mereka terinspirasi kemudian berlatih melakukannya dengan benda mati dulu atau langsung kepada objek hidup, atau mereka tidak terinspirasi dulu tapi sudah sering melakukannya? Tapi ketika tertangkap basah, mereka beri dalih seperti itu?

Kalau aku yah, melihat orang jatuh aja rasanya ikut merasakan kesakitan. Apalagi memukul orang atau menghajarnya, pasti sakit sekali rasanya. Hati nurani tidak sampai hati melihat atau melakukan langsung yang seperti itu. Tapi mereka kok santai saja yah melakukannya? Apa karena sudah terlalu sering sehingga sudah mati rasa dan hati nuraninya not working anymore? Eh, tapi kan mereka terinspirasi yah? Mungkin mereka masih grogi juga kali tapi tidak kelihatan tapi kok sangat terlihat seperti advance yah? Ah, bingung… Aku pernah iseng bertanya pada beberapa temanku di Fak Kedokteran yang sedang Ko-as.

“Eh, pernah ga ada pasien meninggal sewaktu kalian merawatnya?”

“Oh, sering”

“Gimana tuh rasanya?”

“Pertama banget sih, sangat merasa bersalah, feeling guilty banget, gitu. Tapi setelah yang kesekian udah ga lagi kok. Dah biasa aja.”

“Oh…”

Begitu kira-kira bunyinya. Jadi mungkin mereka sudah sering melakukan tindakan itu, sehingga itu menjadi hal yang biasa saja. Iya kah? Ga tau deh, hanya mereka dan pihak2 terkait yang mengetahuinya. Aku hanya sebagai penonton dengan pikiranku saja. Aku hanya berdoa:”Tuhan pulihkan bangsa kami.”

Eh, barusanaku dengar dari TVone (Kabar Siang, Pkl 12.00) kalau tindakan oknum polisi terkait di Sulawesi itu HANYAACTING. WHAT!?? Plis deh, media massa jangan membodoh2i masyarakat yang sedang berusaha untuk cerdas dan pintar ini.

Mereka Mengajariku (2)

February 22nd, 2009 by evelyn-ridha

Dulu aku masih ingat. Kelas IV, cawu II, aku anak baru pindahan dari SD Negri Palang Merah ke SD Swasta RK I Katolik di kota yang sama, Sibolga. Sebagai murid baru aku senang sekali akan pindah sekolah. Sebenarnya tidak pernah terbayangkan akan pindah sekolah walaupun sangat ingin sekali pindah. Ga mungkin toh aku pindah sekolah tanpa alasan yang jelas, seperti di sinetron-sinetron insane itu?! Yang hanya karena ingin mengejar cewek atau cowok pujaannya dia bisa tiba-tiba pindah sekolah, atau cowok yang bisa menyamar jadi perempuan di sekolah yang sama dan semua orang percaya kalau dia cew secara jakunnya kelihatan jelas sekali, atau apalah yang lain yang sama insanenya dengan itu. (Loh kok jadi ngomong sinetron?) Atau mungkin aku yang tidak mengetahui peraturan sekolah yang baru? Bahwa bisa pindah sekolah sesuka hati asal ada uang? Hm…

Ok, lanjut. Hari pertama masuk begitu bahagia. Seperti berada di dunia yang baru dengan pengalaman yang baru. Dikenalkan di depan kelas, sambil senyum-senyum dan melihat sekeliling. Hm, di SDN aku tidak melihat ada anak yang pake kacamata. Di SDN aku juga tidak pernah lihat anak yang matanya sipit. Wah, aku punya teman-teman cina :D. Duduk ditempat yang telah ditunjuk oleh guru baruku, Pak B. Sitanggang (BS). Dan berkenalan secara pribadi dengan teman sebangkuku, Ella. Beberapa menit kemudian aku bertanya padanya:”Di sini sapa yang juara 1?” Hahahaha…mengingatnya membuatku tertawa. Anak baru kok nanya begitu, trus ternyata yang juara I itu duduk tepat di belakang bangkuku dengan badan gendut, pipi gembil, mata sipit, dan memakai kacamata, Handi namanya. Huaaa…tengsin, dia dengar apa tidak yah? Hihihi… Trus berkenalan dengannya. Bicara-bicara dengan teman-teman baruku menunggu pergantian guru, karena sekarang mata pelajaran IPS. Ups, gurunya datang dan kami masih ngobrol. Seorang bapak, yah masih muda, pake kacamata, dengan tampang galak menghampiri bangkuku. “Kalau di kelas belajar! Bukan bicara-bicara!” airmataku hampir tumpah dan pengen cepat-cepat pulang. Aku kan anak baru?? Emang dia ga tahu aku anak baru?? Emang aku pantas dimarahi?? Trus kenapa hanya aku yang dimarahi?? Ah, waktu itu emosiku lebih berkuasa dibandingkan logikaku, padahal kan sebenarnya si bapak hanya mengerjai aku. Hohoho… Namanya Pak K. Sinaga (KS). Dia guru IPSku dulu. Apa kabar yah guru-guru SD ku?

Aku masih ingat bagaimana mereka mengajariku. Sewaktu kelas V, wali kelasku adalah Pak KS. Yang kuingat, sebelum masuk kelas kami harus berbaris dulu di depan pintu kelas sampai barisan rapi. Kalau belum rapi yah belum boleh masuk. Nah, di depan pintu kelas, Pak KS akan berdiri. Setelah rapi setiap anak memasuki kelas dengan tertib sambil menyalam dan mencium tangan Pak KS. Setelah semua anak masuk kelas, anak-anak belum duduk, masih dalam posisi berdiri untuk memberi salam pada guru. Kemudian sang ketua kelas berkata:“Bersiap!” Trus, seorang anak yang bertugas memimpin doa pembuka hari itu maju ke depan dan memimpin doa. Setelah itu ketua kelas berkata lagi:”Bri hormat pada guru!” “Selamat pagi, Pak…” Begitu lah kira-kira tata acaranya. Kemudian duduk?? Belum, belum boleh. Setiap kali pelajaran IPS, kita belum boleh duduk sambil semua anak mendapatkan pertanyaan dan menjawab pertanyaan. Sebelum duduk, Pak KS akan mengajukan pertanyaan kepada setiap murid dengan cara membisikkannya. Kalau ada yang tidak tahu, maka dia akan berdiri sampai dia tahu jawabannya. Tapi bisa juga hukumannya berdiri di depan kelas sambil memegang kedua telinga dan mengangkat 1 kaki sampai ia tahu jawabannya. Atau menyatukan semua jari tangan kiri atau kanan kemudian menokkok-nokkokkannya di papan tulis sebanyak 30x atau lebih. Eh, apa yah EYD nya menokkok-nokkokkan? Somebody help me, please? :D Aku? Yah, di mata pelajaran ini aku hanya 1 kali mendapat hukuman, karena terpaksa belajar malam harinya. Hehehe…

Oh iya, itu pak KS. Di kelas VI, aku bertemu lagi dengan guru matematikaku, Pak Tohang. Hm, lumayan killer, kata orang. Tapi ternyata dia sangat baik dan mau mengerti aku, ketika kelas VI aku mengalami masalah. Hm, kalau Pak Tohang beda lagi hukumannya. Kalau kami tidak tahu jawabannya, biasanya dia pukul tangan yang udah disatukan jari2nya dengan bagian belakang penghapus papan tulis yang terbuat dari kayu. Kebayang? Hm, rasanya panas sekali! Kalau matematika, aku sering merasakannya. Hahaha… Atau rambut yang depan telinga (yang di bagian wajah itu loh, red) ditarik sampai sangking sakitnya badanpun mengikuti tarikannya sampai jinjit sambil ngeringis. Hakakakaka…!!Lucu kalau ingat…coba dulu sudah ada HP kamera trus dipoto, dikasih tunjuk lagi sekarang, pasti geli.

Kalau dipikir-pikir, guruku cerdas yah? Dia tahu kalau kami malas belajar dan kalau tidak demikian kami tidak akan belajar, maka dia mikirin cara untuk membuat kami belajar, walau dengan rasa terpaksa. Tapi aku rasa itu cukup ampuh karena terkadang manusia harus dipaksa untuk melakukan sesuatu yang dia tahu itu penting baginya tapi dia malas melakukannya. Bukan begitu? Yah, aku bersyukur dulu guruku cerdik dan tulus kepada kami. Bagiku, mereka sangat luar biasa. Kalau dipikir-pikir berapa sih gaji mereka sebagai guru? Rumah mereka aja begitu sederhananya, kendaraannya hanya vespa atau Honda kap merah (masih ingat?) atau hanya sepeda seperti bu Banjarnahor dan bu Manalu. Trus pengembangan diri apa sih yang mereka dapatkan?

Tapi rasanya sekarang seakan-akan guru dituntut menjadi orang yang sangat sempurna, orang yang tidak boleh berbuat salah. Benar demikian? Aku rasa terlalu naïf kalau begitu. Banyak orangtua yangmenitipkan anaknya ke sekolah dengan harapan sekolah lah yang akan mengurus, mendidik, dan membesarkan anaknya. Mana mungkin? Kecuali anak itu tinggal di sekolah 24 jam. Tak mungkin toh? Seakan-akan lingkungan berharap sekali terhadap sekolah dan aktivis di dalamnya terlebih-lebih guru. Ga bisa begitu. Semua kita bertanggung jawab terhadap pembentukan anak. Jangan salahkan jika ternyata ada guru yang naik pitam sampai melakukan tindakan fisik kepada siswanya ketika siswanya melakukan kesalahan. Yah, orang-orang bisa menilai “Dia guru, seharusnya dia tahu apa yang dia lakukan.” “Dia guru, seharusnya dia jadi teladan” “Dia guru, seharusnya dia dapat mengendalikan emosinya” Loh?! Guru bukan manusia?? Apakah karena profesi maka dia mematikan perasaan marahnya? Anak-anak itu pun tidak semuanya bisa diajar dengan cara yang lembut. Mereka tidak semuanya manis dan berbudi pekerti luhur. Ada ajah yang bandel, nakal, ngeyel, yah, yang bisa memancing emosi. Mereka memiliki dan membawa kepribadiannya masing-masing yang tidak hanya terbentuk di sekolah tapi dari lingkungan lain. Jadi sebenarnya bukan hanya guru yang bertanggung jawab, tapi kebetulan tingkah anak-anak itu mempengaruhi respon sang guru. Manusia mana yang tidak pernah naik pitam sampai hampir lupa daratan?? Bahkan para pemuka agama sekalipun? Bukan, bukan mau membela guru karena umakku guru ^^ . Tapi, agak sedikit tanda tanya dengan pemberitaan media komunikasi akhir-akhir ini. Pemberitaan yang (menurutku) cenderung berat sebelah dan memojokkan posisi guru yang melakukan hal tersebut.

Sempat lihat guru yang menjadi tersangka di Muara Enim, Sumsel, baru-baru ini? Terancam hukuman penjara 5 tahun karena diduga melakukan tindak kekerasan terhadap muridnya yang memecahkan pot bunga di sekolah. Aku tidak mendukung perbuatannya, perbuatannya sudah pasti salah. Tapi sudah benarkah tindak lanjut yang diberikan kepada guru tersebut? Yang aku tangkap, sepertinya pemberitaan media berat sebelah. Mengapa hanya perilaku guru yang disorot? Kenapa tidak disorot juga murid-murid yang melakukannya? Tindakan2 mereka yang membuat guru tersebut marah? Trus kalau guru tersebut ditindaklanjuti perbuatannya, perbuatan siswa yang melakukan kesalahan itu ditindaklanjutikah? Kalau iya, kenapa tidak ada beritanya? Mungkin bukan cuma itu saja, masih ada beberapa guru lain yang dilaporkan dengan perkara yang serupa.

Seperti yang aku sampaikan sebelumnya, perbuatan guru tersebut sudah pasti salah dan aku tidak mendukungnya. Namun yang aku sayangkan, dari media penyampai berita tersebut tidakkah ada kalimat ajakan untuk para siswa untuk dapat lebih menghargai para guru? Terkadang, pemberitaan yang setengah-setengah dan berat sebelah akan membentuk pola pikir masyarakat yang salah. Tak heran kalau akhirnya terbentuk pikiran bahwa sekolah bukan tempat yang tepat lagi untuk menimba ilmu, sehingga untuk apa sekolah?? Ah, mungkin pikiranku yang terlalu jauh? Namun itulah yang ada dalam pikiranku sekarang, semakin banyak mengetahui rasanya semakin bodoh karena semakin aku tahu banyak hal yang belum kuketahui. Huehehe…

“Sebaliknya dengan para siswa. Harusnya menghargai guru sebagai pengganti orangtua mereka di sekolah… Hargailah kerja keras guru” (Dikutip dari Sumatra Ekspres Online, 13 February 2009)

My SE K750i, Bye…

February 5th, 2009 by evelyn-ridha

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ayub 1:21

BERDUKACITA ATAS HILANGNYA

MY BELOVED HP, SONY ERICCSON K750i

10 AGUSTUS 2006 - 4 FEBRUARI 2009

DI SEKITAR KOSAN-KAMPUS

Kehilangan itu sangat menyedihkan yah. Sampai saat ini masih berusaha untuk melupakannya. Soalnya tiap pagi dia (memanusiakan HP, hehehe) yang dengan lagu “I’m YOURS” bangunini diriku ini. Kalau siang lagi bosen, dia buat aku bisa berselancar di dunia maya. Malam, dia juga yang buat aku merasa dekat dengan teman2 chatku. Hm, aku masih merasa kehilangan dia. Apa yang membuatku tidak rela untuk melepasnya? Coba kudata:

1. Bodynya masih mulus pisannnnnn, walaupun da 2,5 tahun, tapi masih bagus banget, ga ada yang baret dan batere masih awet, ga ada cacat sama sekali

2. Applikasinya udah lengkap! Da banyak yang ku donlot2 dari i-net. Opera lah, Ymtiny lah, Nimbuzz lah, yamee lah, apalagi yah?

3. Fiturnya OK, dan sekarang seri yang begitu kagak keluar lagi!huaaaa…

4. Semua poto, contacts, video (nyaiii, video kebanjiran hilang!!!), mp3, hilang bersamanya.

5. nanti kutambahi lagi

Agak mengesalkan memang, apalagi saat ini aku benar2 tidak ada uang anggaran untuk membeli HP baru.HIKZ…

Tiba-tiba teringat, bulan lalu. Suatu malam, ketika aku belajar, tiba2 ku mengambil HP dan mengutak-atik aplikasinya, terlintas pikiran. “Bagaimana kalau HP ini hilang yah, Tuhan? Apakah aku siap untuk itu?” Beberapa malam sesudahnya, mikir lagi:”Tuhan, apakah aku sudah ketagihan dengan HP ini, karena sepertinya aku tidak bisa lepas darinya. Kalau hilang gimana yah? Aku siap kah?” Hm, cepat2 menghilangkan pikiran itu.

Dan pikiranku benar2 terjadi. Apa artinya??? Biar aku memikirkannya kembali di ruang sepiku. Hohoho…Hm, jalan2 Tuhan tak terselami, sampai saat ini hanya berusaha untuk mengerti kenapa ku harus kehilangan HP di saat ini?

Hm, tapi sudah lah, aku telah melupakannya sedikit, toh aku orangnya gampang lupa. hihihihi…

Pasti DIA sudah sediakan yang terbaik dengan cara yang unik. Hohoho…

Buat teman2, mohon maaf kalau saya nantinya jarang menghubungi kalian, karena no. kalian pun telah lenyap dan aku tidak punya backup datanya. Jika tidak keberatan mohon mengirimkan walau sekedar SMS kepada saya dengan mencantumkan nama. No. saya masih no yang lama. Terima kasih

“Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)” Mat 6:9-13

Facebook yang tak seberapa!

December 3rd, 2008 by evelyn-ridha

Argh!agak2 menyebalkan menghadapi fesbuk yang tak seberapa itu…bukan karena minim daya tangkap (hahaha) tapi minim fasilitas internet, jadi mau pelarin juga susyahh!!!terlalu bertele2, terlalu banyak fitur, dan lumayan berat@#!%@

masih mending kalo warnet dan hotspotnya bagus, kalo lelet??seperti sekarang ini???loadingnya aja makan waktu 15menitan…huggg

dan yang paling rese’ banyak fanskyu yang minta fesbukkyu diutak atik dan diperhatikan…ihhhh…capye deyh ach…trus banyak yang pada hengkang ke sana, ngajak2 pulak…liat fiturnya aja mataku da pusing…

udahlah…mending pake FS, simple dan aksesnya gampang…hohoho…viva FS!!!